
Probolinggo, newsradarjatim – Masyarakat Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, saat ini hangat memperbincangkan putusan banding Pengadilan Tinggi Surabaya yang menjatuhkan vonis lebih ringan terhadap Hasan Aminuddin, mantan anggota DPR RI, sekaligus Bupati Probolinggo, dari 6 tahun penjara menjadi 4 tahun.
Tak ayal, putusan banding majelis hakim terhadap terdakwa Hasan dalam kasus gratifikasi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) ini, menuai kecaman keras dari sejumlah kalangan, tak terkecuali dari pegiat anti korupsi.
Namun begitu, aktivis dari Laskar Advokasi Siliwangi, Syaiful Bahri, justru menanggapi dari sisi berbeda. Menurutnya, eskalasi politik di Kabupaten Probolinggo akan tinggi jika Hasan Aminuddin segera keluar dari penjara.
“Saya lebih tertarik melihat dari perspektif politik. Dinamika politiknya akan berubah. Diakui atau tidak, Hasan Aminuddin tergolong politisi ulung. Kebebasannya nanti bisa memberikan warna baru terhadap percaturan politik di Kabupaten Probolinggo,” ucapnya, Minggu 11 Mei 2025.
Ia pun mengungkapkan, dalam sejarah politik yang dilalui mantan politisi NasDem tersebut, nyaris tak ada lawan sepadan di Kabupaten Probolinggo. Mulai dari jabatan dua periode sebagai Bupati Probolinggo, sampai dilanjutkan istrinya, Puput Tantriana Sari, sebagai Bupati Probolinggo.
Bahkan, saat mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI pada Pemilu 2014, Hasan Aminuddin mampu memperoleh sebanyak 190.226 suara. Perolehan suara terbesar ke-10 se-Indonesia, di antara sekitar 6.000 caleg DPR lain di lintas parpol.
“Terputusnya jabatan politik Hasan Aminuddin bukan karena kekalahan. Tetapi karena kasus hukum yang menimpanya. Sangat dimungkinkan, setelah yang bersangkutan terbebas dari penjara, akan membawa pengaruh besar terhadap perpolitikan di Kabupaten Probolinggo,” tambahnya.
Menurutnya, kondisi Hasan di dalam penjara dan setalah di luar, dampaknya sangat berbeda. Hasan akan lebih leluasa memainkan strategi politiknya setelah terlepas dari jeruji penjara. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, haluan dukungan partai politik (parpol) juga bisa berubah.
“Politik itu dinamis. Tidak ada fanatisme dalam politik. Kadangkala, lawan bisa menjadi kawan, begitupun sebaliknya. Apalagi, sosok Hasan Aminuddin memiliki relasi politik yang luas dan kuat. Segala kemungkinan bisa saja terjadi,” pungkasnya. (r0h)

Leave a comment